Jumat, 22 April 2011

cerpenku 'jamur untuk raja vinezopala'

Jamur Untuk Raja Vinezopala

            Saat pulang sekolah kali ini berbeda bagi Dema. Hanya karena pensilnya dipinjam teman tanpa izin kepada Dema terlebih dahulu, Dema dan temannya berantem sampai-sampai mukanya lebam. Kali ini Dema pun lebih memilih pulang sendiri. Sampai rumah, Kakek tidak marah. Kakek tidak pernah marah. Ia hanya menasehati Dema yang selalu membuat ulah kepada temannya.
            “Sudah berapa kali, Dema ? Kakek tidak ingin kamu besar nanti selalu melakukan perbuatan buruk. Kakek menyekolahkan kamu agar kamu menjadi anak pintar dan mempunyai pribadi yang bagus.” Kata Kakek.
            “Iya, Kek...” jawab Dema.
            “Sudah sana bersih-bersih diri. Kamu jaga rumah saja. Kakek mau ke istana dulu.”
            “Iya, Kek...”
            Seperti itulah sehari-hari Kakek selalu ke istana untuk memasak. Raja Vinezopala memilih kakek menjadi koki istana Vinezopala, karena masakan Kakek dirasa enak oleh Raja. Setiap Kakek ke istana, Dema di rumah sendiri bersama tikus peliharaannya. Orang tua Dema pisah sejak Dema masih umur 5 tahun. Hingga sekarang Dema tidak tahu dimana ayah dan ibunya.
            Dema lebih senang tinggal dengan Kakek. Selain bisa menemani Kakek, Dema juga merasa tentram hidup dengan Kakek karena Kakek perhatian dengannya dan Kakek tidak pernah marah. Karena kesabarannya, Kakek juga selalu dihormati oleh tetangga-tetangga dan orang lain.

@@@

            “Ini Kakek bawakan sup bunga kol dari istana.”
            “Kenapa tidak memasak jamur, Kek ?”
            “Lain waktu saja. Kakek juga belum sempat mencari jamur di hutan”
            “Dema bantu ya, Kek ?”
            “Tidak usah, Dema. Kamu belajar saja di rumah.”
            “Yahh....Dema ingin sekali-kali membantu Kakek”
            “Besok saja lain waktu”
            Dema jarang berkumpul bermain dengan teman-temannya. Teman-temannya bermain bola, dia lebih senang bermain-main dengan tikus nya, Tiko. Dia juga lebih senang di rumah sendirian menunggu Kakek pulang. Terkadang, Dema juga ikut ke istana membantu Kakek. Namun itu jarang sekali.
            Kali ini, Dema juga ingin membantu Kakek karena sekolah Dema akan digunakan rapat oleh guru-gurunya, sehingga murid-murid dipulangkan lebih pagi.
            “Kenapa sudah pulang ?” tanya Kakek.
            “Pulang pagi, Kek. Ada rapat guru. Dema nanti boleh ikut, kan Kek ?”
            “Tapi tidak boleh membuat ulah, ya” pinta Kakek.
            “Janji, Kek”
            Seperti yang sudah dibicarakan Kakek dan Dema, mereka segera menuju ke hutan untuk mencari jamur. Dengan asyiknya, Dema bersiul-siul sambil memilih jamur.
            “Hati-hati, Dema. Jangan pilih jamur yang beracun.”
            “Siap, Kek.”
            Setelah karung sudah penuh dengan jamur, Kakek dan Dema segera menuju istana. Sesampainya di istana, Kakek segera mempersiapkan makan siang sang Raja. Dema membantu membersihkan jamur-jamur yang akan dimasak. Sedangkan Kakek meramu bumbu-bumbu untuk membuat balado jamur kesukaan sang Raja. Dema juga sedikit-sedikit belajar memasak. Setelah selesai menyajikan makan siang sang Raja dan bersih-bersih dapur, Kakek dan Dema pulang ke rumah membawa sisa balado jamur yang dimasak tadi.
            Ketika Kakek dan Dema akan makan siang, tiba-tiba pintu rumah digedor-gedor oleh banyak orang. Kakek terkejut, ditaruhnya sendok yang akan digunakan Kakek untuk makan. Dibukanya pintu rumah oleh Kakek. Ternyata, prajurit-prajurit istana dengan anggotanya yang membawa berita dari istana.
            “Kakek akan kami bawa ke istana, menemui sang Raja. Kakek harus mempertanggung jawabkan perbuatan Kakek !” kata salah satu prajurit istana dengan marah.
            “Tunggu sebentar. Sebenarnya ada apa dengan Raja ?” tanya Kakek dengan gugup dan ketakutan.
            “Nanti akan dijelaskan di istana. Sekarang, Kakek ikut kami !” kata prajurit lain dengan geram.
            “Kakek.....Dema ikut !” pinta Dema dengan gelisah.
            “Jangan, Dema. Kamu dirumah saja.” Kata Kakek.
            “Cepat ! Raja sudah menunggu !” bentak prajurit.

@@@

            Tanpa berlama-lama, Kakek langsung dihadapkan kepada sang Raja yang tubuhnya penuh dengan jamur. Kakek mulai gugup. Tidak tahu apa yang terjadi. Apakah ini memang kesalahannya ?
            Ratu Presa terlihat sedih di samping sang Raja dengan mengelap dan mengobati tubuh sang Raja yang penuh dengan jamur.
            “Saya beritahukan dengan Kakek, bahwa saya seperti ini karena masakan jamur Kakek yang meracuni tubuh saya. Mulai sekarang, Kakek saya pecat dari istana. Saya tidak ingin lagi melihat Kakek di negeri ini. Dan saya perintahkan kepada prajurit untuk membakar rumah Kakek !” perintah Raja dengan nafas tersenggal-senggal dan marah.
            “Saya ......tidak bermaksud meracuni sang Raja. Saya sudah mengabdi disini selama 11 tahun dan saya tidak pernah membuat kesalahan bahkan meracuni sang Raja. Tolong jangan usir saya dari sini, jangan bakar rumah saya. Saya berjanji tidak akan membuat kelasahan lagi. Kalaupun saya membuat kesalahan lagi, sang Raja boleh membunuh saya.” Kata Kakek dengan menangis.
            “Tidak bisa. Jalankan perintah yang saya katakan tadi !” kata Raja.
            “Maafkan saya, Raja.”
            “Sudah, pergilah jauh-jauh dari sini. Saya tidak ingin melihat Kakek lagi !”
            Segera, Kakek dibawa keluar dari istana oleh prajurit dan prajurit-prajurit ikut ke rumah Kakek untuk membakar rumah Kakek. Sesampai dirumah, Dema yang tidak tahu apa-apa langsung dibawa Kakek keluar rumah dan mengajak Dema pergi jauh. Dema pun tak sempat membawa Tiko. Dari kejauhan, kobaran api yang membakar rumah Kakek masih tampak jelas. Dema yakin, Tiko sudah terbakar di dalam rumah. Di sepanjang perjalanan, Kakek bercerita kepada Dema apa yang sebenarnya terjadi. Mengetahui hal itu, Dema langsung menyadari bahwa ini adalah kesalahannya karena mengganggu Kakek memasak yang akhirnya berbuntut kesedihan yang dirasakan oleh Kakek. Dema sangat merasa bersalah kepada Kakek.
            Sekarang, Kakek dan Dema tidak mempunyai apa-apa lagi. Hidup sengsara. Kakek dan Dema hanya bisa mengumpulkan daun-daun kering yang dikumpulkan menjadi gubuk kecil yang reyot.
            “Ini semua salah Dema, Kek. Kita jadi hidup seperti ini.” Kata Dema sambil berkaca-kaca.
            “Tidak usah disesali apa yang sudah terjadi. Ambil saja hikmahnya. Kakek tidak apa-apa.”
            Bagaimanapun, hidup seperti keadaan Kakek dan Dema sekarang ini bukan tidak apa-apa. Ini seperti cambukan yang sangat manyakitkan badan.
            Kakek yang kurus, sekarang bertambah lebih kurus lagi. Begitu pula dengan Dema. Dia selalu merengek kepada Kakek kalau lapar. Sekuat tenaga Kakek selalu mencarikan daun-daun yang bisa dimakan oleh Dema. Kakek sangat sabar dalam menghadapi hidup seperti ini. Kakek selalu menasehati Dema, bahwa hidup selalu berubah-ubah tanpa kita ketahui. Tuhan sudah mengatur semua untuk umat-umatnya, dan ini semua sudah adil. Tuhan tidak memberi cobaan kepada hambanya di luar batas kemampuan hamba yang diberi cobaan itu.
            Di tempat itu, Kakek dan Dema merasa asing sekali. Bagaimanapun juga, Dema hanya bisa Diam. Dia masih anak-anak yang belum mengerti tentang apapun bisa terjadi di muka bumi ini. Dan sekarang, di situlah Kakek dan Dema berada. Di pinggir hutan dekat sungai kecil yang jarang dengan air. Kakek dan Dema bisa bertahan hidup dengan daun-daun yang bisa dimakan. Di sana tak ada siapa-siapa kecuali burung-burung dan hewan-hewan di hutan lainnya. Untungnya, selama Kakek dan Dema tinggal disana, tidak ada binatang buas yang mengancam Kakek dan Dema.
            Namun, Kakek masih merasa beruntung, bahwa sang Raja tidak menghukum mati dirinya. Mungkin, suatu saat kalaupun Raja tidak bisa bertahan hidup, Kakek baru akan dicari dan dibunuh. Kakek terfikir seperti itu. Kakek hanya bisa pasrah, apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang.

@@@

            Hutan yang sebelumnya sepi, mendadak menjadi  gemuruh karena suara kuda yang berlari kencang. Lama kelamaan, suara itu semakin mendekat. Kakek sudah menduga bahwa itu prajurit kerajaan. Ketika Kakek mengajak Dema untuk bersembunyi, prajurit berkuda itu sudah melihat Kakek dan Dema dari kejauhan sehingga berteriak,
            “Berhenti ! Kalau tidak, akan saya panah !”
            Kakek dan Dema merasakan jantung berdegup kencang. Apa yang difikirkan Kakek sebelumnya akan menjadi kenyataan. Kakek dan Dema hanya bisa Diam.
            “Kami dari istana, mencari Kakek untuk dibawa ke istana. Sekarang juga !” teriak si prajurit.
            Tanpa bicara sedikitpun, Kakek dan Dema dibawa ke istana menaiki kuda yang berlari kencang. Kakek dan Dema pasrah. Prasangka buruk sudah ada di benak Kakek. Sampai di istana, Kakek dibawa menemui sang Raja di ruang depan istana yang megah. Di sana, Kakek melihat Raja yang berdiri dengan perkasa dan tampak bugar, tidak seperti terakhir kali sebelum mengusirnya. Antara heran dan takut, Kakek langsung dihadapkan dengan sang Raja.
            “Kakek akan saya angkat lagi menjadi koki istana. Saya akan membuatkan Kakek dan cucu Kakek rumah di istana. Sekarang, Kakek menjadi koki tetap di sini.” Kata Raja dengan bijaksana.
            “Ss....ssa..ya ? Raja tidak salah ?” tanya Kakek dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca.
            “Ya. Sekarang, Kakek tinggal di ruang sementara selagi saya buatkan rumah untuk Kakek.”
            “Terima kasih, Raja. Saya senang sekali Raja berbaik hati kepada saya dan cucu saya. Terima kasih.”
            “Itu sebanding dengan perbuatan Kakek. Karena Kakek, sekarang saya menjadi bugar seperti muda lagi. Saya sudah kebal dari berbagai macam penyakit. Kakek tidak bersalah”
            “Terima kasih, Raja”
            Segera Kakek dan Dema diantar prajurit ke ruang sementara. Disana sudah disiapkan baju-baju baru untuk Kakek dan Dema. Berbagai macam perasaan masih bercampur aduk di fikiran Kakek. Dan Dema, masih terheran-heran sekaligus senang.
            Setelah Kakek dan Dema membersihkan diri, Kakek segera memasak untuk Raja. Menu pertama setelah berbulan-bulan lamanya Kakek tidak memasak di istana, yaitu Fuyunghai. Raja pun senang. Kini kehidupan semakin membaik. Kakek pun diajak makan bersama oleh Raja. Tak lupa, Dema juga diajak makan siang bersama-sama.
            Pada makan siang bersama -sama itulah Raja menceritakan semuanya. Setelah memakan jamur yang dianggap beracun itu, memang tubuh sang Raja menjadi menjamur. Namun setelah itu Raja menjadi kebal dari berbagai macam penyakit dan Raja merasa tubuhnya segar kembali, seperti saat muda. Raja sangat berterima kasih kepada Kakek. Kakek pun senang. Ini karena ketidaksengajaan Kakek dan Dema mencari jamur di hutan itu. Sang Raja pun ingin Kakek memasak jamur lagi.
            Namun ketika Kakek dan Dema ingin mencari jamur lagi di hutan, tak ada satu pun jamur yang ditemukan. Entah apa yang terjadi, Kakek pun tidak tahu.

@@@


Tema   : Sengsara berbuntut kebahagiaan
Tokoh  :
            1). Kakek ( sabar, bijaksana, perhatian )
            2). Dema ( penurut, suka membantu, sedikit nakal )
            3). Raja Vinezopala ( tegas, bijaksana, baik hati, bertanggung jawab )
            4). Ratu Presa ( perhatian, baik hati )
            5). Prajurit istana ( tegas, berani )
Latar    :
            1). Tempat ( istana, hutan, dan rumah Kakek )
            2). Suasana ( takut, gugup, pasrah, dan senang )
            3). Waktu ( siang hari, dan saat makan bersama )
Amanat           :
            1). Dalam mengahadapi ujian kehidupan, kita harus selalu bersabar.
            2). Belajar mengambil hikmah dari kejadian buruk yang menimpa kita.
Sinopsis :
            Dema, anak kecil yang tinggal dengan Kakek nya, yang dipercaya menjadi koki istana oleh Raja Vinezopala. Selama 11 tahun Kakek mengabdi kepada sang Raja, namun kehidupan berubah setelah Raja diduga keracunan oleh jamur yang dimasak Kakek dan Dema. Kakek dan Dema diusir dari negeri Vinezopala dan merasakan hidup sengsara. Namun tanpa disangka, kehidupan Kakek dan Dema menjadi lebih baik dari sebelumnya karena Kakek dan Dema sekarang tinggal di istana serta dibuatkan rumah oleh sang Raja. Raja sembuh dari penyakitnya, dan berterima kasih kepada Kakek sebab telah membuat Raja menjadi kuat seperti muda lagi karena jamur yang dimasak oleh Kakek.

Nama  : ALIFA SINTYA GATRI
No        : 18
Kelas    : XII IPA 2
           

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. cerpennya bagus, aku baca sampai beres..hehe

    BalasHapus